Friday, August 29, 2008

Man’s commitment…. possibly existed?

Dua hari yang lalu, someone called me. Gw sama sekali ga ngerti ada angin apa yang bikin dia telepon gw just to say sorry to me.

Terakhir kali kita berhubungan di bulan Februari pertengahan. Waktu itu pun, kita ga berharap akan ketemu lagi. Kita (tepatnya gw) memutuskan untuk ga mau lagi pusing-pusing mikirin dia, mikirin hubungan gw dengan dia (yang saat itu ga jelas, hubungan kita adalah apa), di bulan Desember 2007. Waktu itu, gw dah ga tahan lagi dengan sifatnya dia yang ga mau berkomitmen, at any kind of relationship. TTM, that’s enough babe, he said. Padahal kita dah deket for about 1,5 years. Wah, itu pukulan telak buat gw saat itu, karena gw dah telanjur berharap sama dia. Emang sih, selama ma dia, gw juga sempat menjalin hubungan tanpa status dengan beberapa cowok, tapi ga sedalam sama dia. Dan waktu itu, gw dah ga punya hubungan apa-apa lagi dengan laki-laki manapun.

Anyway, setelah Desember 2007, baik dia maupun gw ga ada keinginan (at least, dalam bentuk perilaku) untuk saling menghubungi. Untill his father died in Februari 2008. Waktu itu sekitar jam tiga sore, temen dia nelepon gw, saying that. Finally I decided to come to his house in Depok, nyampe di rumah dia jam sembilan malam (secara dari rumah di Slipi jam 7 malem), hujan-hujanan…wah butuh perjuangan lebih saat itu, and terus terang aja, I expect nothing but showing him that I cared and I forgave him.

After that, we never had any kind of contacts at all, till 2 dayz ago. He called me, asking where did I live now, and said that he’s sorry about what he’s done in the past. Gw pikir itu ga penting lagi. Basi dan garing. Karena semuanya dah berubah setelah setengah tahun dia menghilang dari hidup gw.

I just smiled at the time, at least he called me, right?

Gw sempet nanya satu hal sama dia : Dah punya pacar belum? Dan dia bilang : Belum. Masih pengen bebas. Hmph, ternyata dia ga berubah, masih dengan ke-keukeuh-annya untuk ga mau berkomitmen dengan siapa pun. Apakah seandainya gw masih di Jakarta dan dia menelepon, trus kita ketemu dan meluruskan banyak hal, dia akan jadi orang yang gw harapkan? Entahlah. Yang pasti sekarang, kita dah jauh. At least, ga ada alasan gw lagi untuk mengharapkan dia berada di masa depan gw.

Laki-laki….begitu sulitkah hanya untuk berusaha memegang tanggung jawab atas suatu hubungan? He’s already 28 this year. Entah kapan dia siap. Mungkin tahun depan, dua tahun lagi, atau 10 tahun lagi? Tapi kemungkinan besar, bukan dengan gw. Enough.

Posted by gHiE at 01:40:15 | Permalink | No Comments »

Monday, August 25, 2008

Hanya Satu yang Pasti di Dunia Ini : KEMATIAN…

Yesterday, my grandma has passed away. She left without any terrible diseases before. Hanya 3 hari beliau berada di rumah sakit dan meninggal dengan damainya.

Saya kebetulan ikut menyaksikan secara langsung proses pemakaman beliau. Berada tepat di sekitar liang lahat, saya menyaksikan tubuhnya yang telah kaku dan pucat diturunkan. Di bawah, ayah saya dan kedua adik laki-lakinya menyambut jenazah beliau dengan khidmat, menghadapkan tubuhnya hingga menyentuh tanah yang ada di sampingnya, sujudlah ia, berkalang pada tanah. Dari tanah kembali ke tanah.

Ayah saya sempat tak kuasa menahan tangis ketika mewakili pihak keluarga, memohon maaf apabila di masa hidupnya, almarhumah pernah membuat kesalahan yang sengaja maupun tidak.. Ah, Ayah, saya rasa walaupun ada kesalahan nenek, tapi saya melihat nenek kembali dengan sangat tenang, wajahnya sangat syahdu dan bersinar, seperti mimpimu beberapa jam sebelum almarhumah meninggal, ia telah disambut oleh malaikat-malaikat di syurga-Nya…

Tak ada yang mengetahui kapan dan bagaimana seseorang akan meninggal. Namun yakinlah akan satu hal, kita pasti meninggal, kapan dan bagaimana pun caranya. Experiencing the burried event yesterday, membuat saya benar-benar tercekat. Pentingkah selama ini kesombongan kita, sedangkan untuk mati pun kita masih membutuhkan orang lain. Helpless, tak berdaya, hanya jasad kita tinggal, jasad yang kita bangga-banggakan. Sebagai orang yang pintar, berpendidikan, tampan atau cantik, kaya, berstatus sosial tinggi. Semua itu hanya melebur dalam satu rangkaian kata : 11 September 1982 - ……… Ah, manusia ternyata hanya punya identitas itu. Tidak lebih.

Posted by gHiE at 08:13:55 | Permalink | Comments (1) »

Friday, August 22, 2008

Tips Membuat Key Performance Indicators (KPI)

KPI sering sekali disebut-sebut sebagai salah satu landasan suatu perusahaan dapat berjalan on the track (tentu saja toward the progressive track). Dalam bahasa Indonesia, KPI biasanya disamakan sebagai target kinerja, baik itu target perusahaan, unit kerja, maupun target individu. KPI membantu perusahaan mendefinisikan dan mengukur kemajuan (progress) secara Scientific, Measureable, Achievable, Reliable, dan Time bound (SMART).

 

SCIENTIFIC

 

Berarti, KPI harus bersifat khusus, unik dalam merefleksikan tujuan-tujuan perusahaan. Jadi satu perusahaan ada kemungkinan punya KPI organisasi yang berbeda dengan perusahaan lainnya.

Setelah punya KPI perusahaan, KPI-KPI tersebut di-generate atau di-cascade ke bawah, sehingga muncullah KPI-KPI unit kerja. Dan hasil generate KPI unit kerja diterjemahkan ke KPI masing-masing individu yang ada di dalam unit kerja yang bersangkutan.

 

Contohnya :

Sebuah perusahaan ritel fashion, memiliki KPI organisasi : Meningkatkan Kepuasan Pelanggan.

KPI ini digenerate ke KPI departemen produksi sebagai : Mengurangi jumlah unit yang di-reject oleh inspeksi kualitas. Beda dengan KPI departemen pelayanan : Mengurangi jumlah komplain pelanggan.  

Kemudian, KPI departemen dispread out ke KPI masing-masing individu guna menunjang KPI departemen mereka. Contohnya, KPI departemen pelayanan (Mengurangi jumlah komplain pelanggan) di-spread ke KPI individu, contohnya : Mengangkat telepon pelanggan sebelum dering ke-3 (untuk KPI si call center), Memberikan jawaban yang lengkap, jelas, dan memuaskan kepada pelanggan kurang dari 5 menit (untuk KPI sales promotion).

 

 

MEASUREABLE

Indikator suatu kinerja tidak akan berjalan secara objektif bila tidak dapat diukur tingkat keberhasilannya. KPI harus memiliki value (nilai), misalnya :

  1. Jumlah produksi, dalam ton / unit / persentase, dll
  2. Rata-rata komplain pelanggan, dalam jumlah komplain / persentase kerugian akibat komplain, dll
  3. Jumlah kecelakaan kerja, dalam jumlah kecelakaan.

 

Measurable juga harus menunjukkan indikasi tingkat keberhasilan, apakah sangat bagus, bagus, kurang, atau tidak bagus.

 

 

ACHIEVEABLE

 

Ini faktor yang paling penting dalam mengidentifikasi efektivitas KPI. Bahwa target-target yang dituliskan bisa dicapai oleh masing-masing individu dalam perusahaan tersebut. Bisa dicapai, tidak perlu terlalu banyak, realistis sehingga tidak terlalu rendah (yang mengakibatkan kurang motivasi dan menganggap remeh suatu KPI), namun juga tidak terlalu tinggi (yang membuat orang-orang yang di dalamnya jadi hopeless alias patah arang, karena tidak mungkin tercapai).

 

Sebaiknya membuat KPI yang bertahap per tahunnya, misalnya pada tahun 2008, peningkatan penjualan sebesar 15%. Tahun 2009, sebesar 27%, dan seterusnya. Tidak perlu langsung 50%, misalnya. Asalkan achieveable, realistis, sekaligus dapat memotivasi karyawan. Hal lain yang perlu dipertimbangkan dalam membuat KPI yang achieveable adalah menyesuaikan dengan keadaan / situasi yang ada (misalnya untuk perusahaan ritel alat tulis, target penjualan dapat dipatok lebih besar pada musim liburan sekolah).

 

Dengan demikian, pada pembuatan KPI, seluruh level dan unit kerja di dalam perusahaan perlu dilibatkan.  

 

 

RELIABLE

 

Dapat diandalkan. Artinya, KPI yang dibuat haruslah esensial bagi perusahaan untuk mencapai tujuan-tujuannya. KPI dapat memberikan gambaran pada setiap karyawan terhadap apa yang penting dan apa yang harus dilakukan agar dapat mencapai tujuan-tujuan yang diharapkan, serta dapat digunakan untuk me-menage orang, sistem, tools, dll.

 

 

TIME BOUND

 

Aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah menetapkan perhitungan target waktu yang dapat menjadi acuan kinerja. Satuan waktu yang dapat digunakan bisa per hari / jam / bulan atau per tanggal (misalnya deadline pembuatan laporan keuangan harus dikumpulkan per tanggal 1 setiap bulannya).

Posted by gHiE at 04:48:05 | Permalink | Comments (2)

Wednesday, August 20, 2008

Orang yang lahir bulan Mei ternyata merasa paling beruntung, dan yang November merasa paling tidak beruntung :)

Orang-orang bule memang tidak pernah kehabisan bahan penelitian. Gw baru saja ngedapetin satu jurnal yang menurut gw agak-agak nggak penting. Tapi ternyata penting juga karena berhubungan dengan kepribadian seseorang. Judulnya : “Born lucky? The relationship between feeling lucky and month of birth”, ditulis oleh Jayanti Chotai dan Richard Wiseman, published-nya tahun 2005.

Karena penasaran, gw buka, print dan baca-baca. Ternyata fakta menunjukkan bahwa : Orang-orang yang lahir di musim panas lebih ngerasa lucky dibandingkan dengan orang-orang yang lahir di musim dingin. Ribet yah? (secara di Indonesia cuma ada 2 musim). Pokoknya, orang yang lahir di bulan Mei-Juni (terutama Mei) merasakan keberuntungan yg lebih banyak dibandingkan dengan orang-orang yang lahir di bulan November-Desember. Kenapa?

Ternyata ini berhubungan dengan levels of HVA (homovanilic acid) dan MHPG (3-methoxy-4-hydroxyphenylglycol) yang merupakan indikator affective and anxiety disorders (gangguan kecemasan dan afektif). Orang-orang yang lahir pada bulan Nov-Des memiliki level HVA dan MHPG yang tinggi, artinya mereka lebih rentan untuk terkena gangguan ini, demikian sebaliknya.

Orang-orang yang rentan terkena gangguan kecemasan dan afeksi memiliki kepribadian yang introvert, tidak terbuka, dan neurotik.

Nah,,, kepribadian seperti ini tidak dimiliki oleh orang-orang yang merasa dirinya beruntung. Walah, muter-muter aja ya jadinya. Karena, sebuah studi menunjukkan bahwa orang-orang yang feeling lucky memiliki skor yang tinggi pada dimensi Extraversion dan Openness, dan rendah pada Neuroticism, ketika diukur dengan The Five Factor Personality Inventory atau yang dikenal dengan NEO (Costa & McCrae, 1992).Karenanya, feeling of being lucky itu sebenarnya merupakan refleksi dari karakteristik personal seseorang.

Walaupun kelihatannya merupakan keyakinan yang irasional, tetapi feeling lucky merupakan tanda-tanda mental health yang baik. Karena ketika orang merasa dirinya beruntung, maka dia berpandangan lebih optimis, stres berkurang, ga khawatir dengan kehidupan, dan ga terlalu mempermasalahkan kesalahan-kesalahan. Temuan lain yang sebenarnya sudah dapat ditebak, adalah : laki-laki lebih merasa feeling lucky in their life dibandingkan dengan perempuan. Yaaa kalo ini gw juga dah mengira, karena perempuan itu dari hormonnya juga dah pencemas, ditambah lagi dengan lingkungan sosial yang tidak mendukung seorang perempuan untuk percaya diri. Jadi, mereka ngerasa apa pun yang dilakukannya harus di-inquiry dulu, mereka merasa perlu meyakinkan diri sendiri dengan lebih sering, hingga mereka tahu bahwa keputusan yang diambilnya tepat.

Penelitian yang dilakukan oleh Chotai dan Wiseman ini dilakukan melalui media internet kepada hampir 30.000 responden, yang 75%-nya lahir di Inggris dan dengan perbandingan yang hampir seimbang antara laki-laki dengan perempuan.

Hemmm… kalau di Indonesia kira-kira hasilnya gimana ya? Secara orang Indonesia itu sebenarnya kurang percaya diri, so, mungkin jadi merasa tidak beruntung. Tapi nggak juga lah, bisa jadi justru sebaliknya, saking santainya menjalani hidup, jadi merasa sangat beruntung karena tidak perlu memikirkan apa-apa lagi.

Posted by gHiE at 05:21:50 | Permalink | No Comments »

Thursday, August 17, 2006

- Oktober dengan dualisme yang terang -

Ternyata sulit untuk menyatakan diri ketika kau menerima kenyataan yang tak kau hadapi dengan kekuatan yang optimal. Demikian pula saat kau menumpahkan seluruh kepingan jiwamu hanya kepada waktu yang berdetak, tanpa kau tahu ia telah pergi hingga ke ujung jurang dan sedikit lagi tak akan kau lihat bahkan bayangannya.

Ada separuh kehidupan yang kau hembuskan pada angin dan ia membawanya bersama langit ke arah yang ingin kau tuju, namun ia bergerak amat pelan. Hampir saja kau akan marah kepada mereka, namun pikiranmu menguncimu dan berkata, beban mana yang tak berat ? Lalu kau diam saja sambil hatimu menggerutu.

Ketika kau menyadari, semua bergerak, kau merasa seperti anak kecil yang autis, punya kehidupan sendiri dan tak mau bergabung untuk merotasi. Kau hanya terkungkung di pojok hingga kau terbangun karena terkejut dunia bukan seperti yang kau harapkan, lalu kau tidur kembali.

Hei, ini kemisteriusan kehidupan, kau bisa gila saat kau tak melakukan apa-apa selain bertanya, bagaimana kabar kehidupanmu yang sedang kau hembuskan pada angin itu.

Wake up, girl!!! It’s you I want to look. And it’s not you that give your destiny to the wind and hope nothing.

Biarkanlah ia menghilang, sebab ia mungkin saja akan menjadi kenanga busukmu, seperti mereka yang telah memberikan setetes alkohol di lukamu dan kau menjerit, tapi kau telah kebal, kan ?

Posted by gHiE at 05:20:21 | Permalink | No Comments »

Thursday, August 31, 2006

Pagi tadi aku sengaja tidak membuka Sudoku-ku yang selalu terselip di dalam tas putihku yang sudah mau minta dicuci. Aku berusaha menghilangkan kebosanan pagi itu tanpa bermain-main dengan lingkaran nomor. Karena pagi tadi tidak terlalu terik, aku senang. Memperhatikan orang-orang yang berkejaran dengan waktu demi ampunan kepada kehidupan. Tapi bukan itu yang menarik perhatianku pagi itu. Sekelompok besar pekerja sedang berdiri-diri di tengah jalan, bukan karena mereka berdemonstrasi (mungkin saat ini mereka sudah tidak sanggup lagi berdemonstrasi karena..PERCUMA men… semua juga sudah tau itu..) tapi mereka sedang mengerjakan proyek busway. Itu loh, program pemerintah Jakarta untuk (katanya sih) mengurangi laju kemacetan di jalan. Mereka sedang sibuk meninggikan jalan sepanjang Ragunan hingga Kuningan sebagai jalur bis besar, transportasi modern a la orang Jakarte.

Wah, aku jadi berpikir agak berharap dikitlah. Gimana kalau di kota asalku, Palembang, ada proyek busway. Kemacetan di Palembang memang masih kalah jauh dengan Jakarta, tapi ada gejala yang menunjukkan ke arah sana. Nah, begitulah pemerintah kita, tidak pernah mencegah. Hanya bisa mengatasi. Padahal ibu kesehatan berkoar-koar buat bilang : Mencegah lebih baik dari mengobati. Sekarang kan, jadi yang kena dampaknya, orang-orang pengguna jalan yang tidak punya alternatif lain untuk berangkat ke kantor selain jalan yang udah dipotong separoh itu. Wuff…

Balik lagi ke Palembang, aku mendukung banget kalau pemerintah di kota-kota besar mulai memperhatikan masalah kemacetan. Karena, kalau aku melihat dari sudut pandangku, psikologi, kemacetan sangat berpengaruh terhadap kejiwaan seseorang. Orang bisa stress fisik dan psikologis. Kemungkinan lain : Orang bisa apatis dengan kondisi orang lain. Misalnya gini : Lu lagi asyik-asyiknya merhatiin kendaraan di depan, biar gak ada yang menyalip, ternyata di sebelahmu ada motor yang menyerempet mobilmu dan mobilmu kegores. Dengan santainya si pengemudi motor bilang : Yah, pak, namanya juga lagi macet. Hem…menyalahkan kemacetan sekaligus membuat orang tidak empati dengan orang lain. Pak Presiden tercinta,,, mau masyarakatnya semakin menjadi kegilaan psikologisnya????

Posted by gHiE at 05:19:38 | Permalink | No Comments »

Psikologi Marketing yg Mengena?

Saya jadi tertarik mendalami psikologi konsumen dan pemasaran ketikan saya membaca belasan artikel bagus di www.marketingpsychology.com.
Ada analogi keren yang membuat saya termenung dan bilang : “Bener juga ya?”. Gini analoginya : Ketika saya haus dan seseorang menawarkan sepotong semangka buat saya, I probably reject it kalau saya tidak pernah melihat seperti apa buah semangka itu. Moreover, walaupun saya tahu semangka itu kayak apa, belum tentu juga saya mau makan semangka waktu saya haus, kalau orang itu tidak meyakinkan saya kalau semangka bisa menghilangkan haus.

Ternyata kalau analogi ini diterapkan di bidang marketing, di dalam pikiran saya, hasilnya bisa keren banget. Orang bisa menjual produk atau jasanya dengan laku kalau dia tahu apa yang customer butuhkan, membuat customer kenal dengan produk atau jasanya, dan yang paling penting nih : bagaimana caranya meyakinkan mereka agar tahu kalau produk atau jasanya bisa fulfill their needs or desires. Coba, gimana caranya tuh??
Semangkanya kan bisa dibikin jus (yang nota bene diminum orang, coz orang percaya kalo apapun yg cair-cair bisa ngilangin haus). Moreover, kalau dia juga bisa meyakinkan saya kalau semangka (ato jusnya) lebih enak dan mengandung vitamin C daripada air putih doang, saya jelas minum tuh jus ato semangkanya sekalian buat menghilangkan haus.
Apalagi kalau gratisan…. hehehee…..

Posted by gHiE at 05:18:29 | Permalink | No Comments »

Sunday, July 16, 2006

this morning, as usual, woke up, entertained myself for a while, cooked for lunch… until in the certain minute, precisely,on the bus, i met “pengamen” sung a song, about revolution, socialism, and rebellation against poverty. i got shocked a little bit, moreover, he wore t-shirt written “Lawan kemiskinan”. I was sure that he loved Iwan Fals so much.
gue ngerasa tercerabut, from these circle situation. my life circumstances. re-feeling about what my past idealism had gone just in a moment after i decided not to go to
Yogyakarta, joining PSP team. my social feelings : helping people in disaster area, caring about poor people, wuff….. it changed to the capitalism ideas that brought me out from those minds, and tried to find another “materialism” life in jakarta.

i don’t know why i write this blog. maybe i miss my works, my friends, my duties, my work hours, the situation, the field climate….. but more than that feeling : i miss my idealism emerged!
and you know what else?
jakarta-west-central java had earthquake again this noon. dan idealismeku semakin memuncak!!!!!


Posted by gHiE at 05:17:50 | Permalink | No Comments »

BIG or SMALL ?

this morning, when I saw the mirror, I said to myself… “I’m big enough.. why were people so critical about my height and the size of my body?” so that, I went to the office with a great spirit, thought that I was the only BIG woman in this whole
Jakarta.

but when I came to my office and entered my office’s toilet, I re-saw myself on the mirror. GOSH!! I was so tiny, small,.. where is the BIG picture of mine when I was in my home a couple hours ago? maybe I was wrong, but which one was wrong, the time when I was at home, or at office ?

then I realize now, why.
when I was in home, looking at the mirror, I stood up at the SMALL mirror. even I couldn’t see my new clothes. but in the office, I faced the BIG mirror, so it could exhibited my whole body, even my thin body, my unsearched muscles, etc etc…

i rethink again and again…
and i submit my argument that :
you’ll look BIG in the SMALL situation. but you’ll look SMALL in the BIG situation.
you’ll look BIG in the SMALL friends. but you’ll look SMALL in the BIG friends.
you’ll look BIG in the SMALL jobs. but you’ll look SMALL in the BIG jobs.
you’ll look BIG in the SMALL journals. but you’ll look SMALL in the BIG journals.
finally….
you’ll look BIG in the SMALL company. but you’ll look SMALL in the BIG company.

Now, it’s up to you, whether you want to be BIG,, or SMALL.
you can be BIG in the SMALL company. but that’s it.
but you may be SMALL now in the BIG company, but you can be as BIG as your BIG company.

Posted by gHiE at 05:16:43 | Permalink | No Comments »

Nanggroe dalam 2 halaman

Tentu masih saja segar dalam ingatan kita apa yang terjadi tanggal 26 Desember 2004 yang lalu. Sebuah bencana nasional yang menghantam ujung Sumatera, telah menewaskan lebih dari 250 ribu orang masyarakat Aceh dan Sumatera Utara. Tsunami.Getaran gempa dengan 8,9 skala ritcher tidak hanya menyebabkan rusaknya sarana prasarana di wilayah itu, tapi juga sekaligus ‘membersihkan’ seluruh
kota dengan air laut

Pikiran pertama yang melintas di dalam pikiran saya adalah sebuah organisasi besar bernama Red Cross, yang kita kenal bersama di Indonesia dengan Palang Merah Indonesia atau PMI. Dan benar saja, ratusan relawan PMI bergerak cepat ke daerah itu dan membantu masyarakat membangun kembali Aceh dan Sumatera Utara yang porak poranda akibat tsunami.

Segitu hebatnya ya PMI ?

Sebagai seorang anggota PMI, dengan bangga ( dan sedikit subjektif ), saya berani bilang : Iya. PMI memang hebat.

Sebagai organisasi yang mengedepankan tujuh prinsip Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, yang memiliki cabang di seluruh Indonesia, PMI telah menancapkan kukunya sebagai organisasi kemanusiaan terbesar di Indonesia. Di mana pun bencana, organisasi PMI bergerak di garda terdepan dalam usaha-usaha penanggulangan bencana.

Hebat kan ?

Setidaknya itu yang saya tangkap dari peristiwa tsunami itu. Relawan-relawan PMI dengan sekuat tenaga membantu para korban bencana yang sangat besar itu, dengan mengorbankan waktu, pikiran, dan kebutuhan-kebutuhan personalnya untuk menolong orang yang tidak pernah dikenalnya. Kedengarannya sepele dan simpel sekali. Namun tidak semudah itu, karena betapa sulitnya mengorbankan hal-hal yang sifatnya pribadi untuk melakukan sesuatu kepada orang lain. Egoisme kita benar-benar diuji di lapangan. Dan tidak semua orang bisa melakukannya. Maka dari itu, banggalah teman-teman saya yang punya keberanian untuk memilih menolong dan memperhatikan orang lain daripada dirinya sendiri.

Tidaklah heran, sebagai salah satu orang Indonesia ( yang selama ini masih saja menyusahkan negaranya ) saya tergerak untuk ikut serta dalam kegiatan gotong royong besar-besaran itu. Saya kemudian bergabung dengan tim dukungan psikologis, mengingat latar belakang pendidikan saya ( yang sampai sekarang ) adalah mahasiswa psikologi.

Pertama kali, izinkanlah saya untuk menceritakan bagaimana rasa rendah diri yang saya alami pada saat bergabung pertama kali dengan tim dukungan psikologis yang akan diberangkatkan ke Aceh pada bulan Februari 2005 yang lalu. Bagaimana tidak rendah diri, saya ditugaskan di Meulaboh bersama seorang dokter yang akan segera menjadi psikiater, sementara saya masih berijazah SMU dan masih berjuang mati-matian keluar dari kampus psikologi.

Rasa rendah diri itu agak surut setelah saya bertemu dengan sahabat-sahabat saya, anggota PMI Jabar, Sumatra Utara, dan Riau yang pada saat itu ada di Meulaboh. Penghargaan mereka kepada saya sebagai seorang amatiran psikologi mampu menumbuhkan rasa percaya diri saya. Mereka menceritakan keluhan-keluhan mereka, yang sebagian besar memang masalah pribadi, secara terbuka dan jujur, karena mereka menyangka saya sudah bertitel ibu psikolog padahal…. Rasa kekeluargaan dan penghargaan itulah yang membentuk diri saya untuk benar-benar berusaha meringankan masalah mereka, dengan mendengarkan, memberi semangat, dan sedikit-sedikit juga memberikan solusi (yang menurut mereka cukup membantu). Tapi memang sebagian besar di antara mereka hanya butuh didengarkan. Dan itu yang menjadikan jam tidur saya rata-rata hanya 3-4 jam per hari. Saya tidur sekitar pukul 2 pagi dan bangun pukul 5 pagi. Pekerjaan para relawan selama kurang lebih 12 jam, membuat mereka hanya mempunyai waktu di atas pukul 10 atau 11 malam untuk mengobrol dan melepaskan kepenatan. Dan pada saat itulah saya mengajak mereka mengobrol, dan sebaliknya. Walhasil, setiap pagi saya harus nongkrong di kedai di depan posko PMI hanya untuk mendapatkan segelas kopi sebagai pengganjal mata saya untuk hari itu.

Namun demikian, tim dukungan psikologis juga dibentuk untuk tidak hanya bertugas untuk mendampingi para relawan PMI yang bekerja di daerah bencana, namun juga untuk membantu pemulihan keadaan psikologis korban bencana. Memang saya akui, dalam tanggung jawab kedua ini, usaha yang saya lakukan sangat jauh dari yang diharapkan. Hal ini dikarenakan faktor teknis, seperti tidak ada perencanaan yang matang (sebelum diterjunkan) mengenai hal-hal apa saja yang harus dilakukan di lapangan, sehingga tim dukungan psikologis tidak memiliki target pencapaian atau pun sasaran tempat maupun orang.

Dengan keadaan harus berpindah setiap hari ke lokasi yang berbeda, saya berusaha mendatangi tenda-tenda penduduk, dan mengajak mereka mengobrol. Memang bukanlah usaha yang strategis dan dapat secara langsung mengurangi penderitaan dan trauma mereka, akan tetapi yang saya tekankan dalam kegiatan ini hanyalah untuk menegaskan pada mereka bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi bencana tersebut. Meskipun waktunya tidak terlalu panjang, namun saya mengerti bahwa hal tersebut merupakan satu-satunya jalan untuk tetap menunaikan tanggung jawab saya sebagai anggota dari tim dukungan psikologis pada khususnya, dan anggota PMI pada umumnya.

Demikianlah sedikit gambaran kegiatan yang saya lakukan pada saat saya bertugas di Nanggroe Aceh Darussalam. Saya berharap, di masa mendatang, tim dukungan psikologis mendapat tempat yang sama krusialnya dengan tim-tim lain, dan pergi ke daerah bencana bukan hanya untuk mencari teman dan pengalaman, namun lebih dari itu. Rasa tanggung jawab dan keinginan untuk membantu korban bencana adalah prioritas utama. Pengobatan psikologis, saya harapkan, akan sama penting dan sama diperhatikan dan dikembangkannya, seperti pengobatan dan pemulihan yang sifatnya fisik.

Posted by gHiE at 05:15:10 | Permalink | No Comments »