Man’s commitment…. possibly existed?
Dua hari yang lalu, someone called me. Gw sama sekali ga ngerti ada angin apa yang bikin dia telepon gw just to say sorry to me.
Terakhir kali kita berhubungan di bulan Februari pertengahan. Waktu itu pun, kita ga berharap akan ketemu lagi. Kita (tepatnya gw) memutuskan untuk ga mau lagi pusing-pusing mikirin dia, mikirin hubungan gw dengan dia (yang saat itu ga jelas, hubungan kita adalah apa), di bulan Desember 2007. Waktu itu, gw dah ga tahan lagi dengan sifatnya dia yang ga mau berkomitmen, at any kind of relationship. TTM, that’s enough babe, he said. Padahal kita dah deket for about 1,5 years. Wah, itu pukulan telak buat gw saat itu, karena gw dah telanjur berharap sama dia. Emang sih, selama ma dia, gw juga sempat menjalin hubungan tanpa status dengan beberapa cowok, tapi ga sedalam sama dia. Dan waktu itu, gw dah ga punya hubungan apa-apa lagi dengan laki-laki manapun.
Anyway, setelah Desember 2007, baik dia maupun gw ga ada keinginan (at least, dalam bentuk perilaku) untuk saling menghubungi. Untill his father died in Februari 2008. Waktu itu sekitar jam tiga sore, temen dia nelepon gw, saying that. Finally I decided to come to his house in Depok, nyampe di rumah dia jam sembilan malam (secara dari rumah di Slipi jam 7 malem), hujan-hujanan…wah butuh perjuangan lebih saat itu, and terus terang aja, I expect nothing but showing him that I cared and I forgave him.
After that, we never had any kind of contacts at all, till 2 dayz ago. He called me, asking where did I live now, and said that he’s sorry about what he’s done in the past. Gw pikir itu ga penting lagi. Basi dan garing. Karena semuanya dah berubah setelah setengah tahun dia menghilang dari hidup gw.
I just smiled at the time, at least he called me, right?
Gw sempet nanya satu hal sama dia : Dah punya pacar belum? Dan dia bilang : Belum. Masih pengen bebas. Hmph, ternyata dia ga berubah, masih dengan ke-keukeuh-annya untuk ga mau berkomitmen dengan siapa pun. Apakah seandainya gw masih di Jakarta dan dia menelepon, trus kita ketemu dan meluruskan banyak hal, dia akan jadi orang yang gw harapkan? Entahlah. Yang pasti sekarang, kita dah jauh. At least, ga ada alasan gw lagi untuk mengharapkan dia berada di masa depan gw.
Laki-laki….begitu sulitkah hanya untuk berusaha memegang tanggung jawab atas suatu hubungan? He’s already 28 this year. Entah kapan dia siap. Mungkin tahun depan, dua tahun lagi, atau 10 tahun lagi? Tapi kemungkinan besar, bukan dengan gw. Enough.