FLYNN EFEECT
Sebagai salah seorang lulusan psikologi, saya cukup prihatin dengan beredar secara luasnya buku-buku panduan psikotes di masyarakat. Contoh psikotes yang paling umum saya jumpai adalah TPA (Tes Potensi Akademik) yang biasanya terdiri dari soal-soal yang sering dilihat di sekolah, seperti Bahasa Indonesia, Sejarah, atau sifatnya pengetahuan umum. Selain itu, tipe soal seperti CFIT (Culture-Fair Intelligence Test) atau modifikasi tes Weschler. Subtes yang paling sering muncul adalah soal-soal matematika, deret hitung, similaritas dan analogi bahasa, dan digit simbol.
Selain tes-tes inteligensi, ada juga panduang-panduan menyiasati tes-tes kepribadian, seperti Wartegg, tes gambar orang (DAP) atau pohon (Baum), sampai soal-soal EPPS juga ada. Panduan yang terlalu digeneralisir hingga panduan yang menyesatkan.
Mungkin hal di atas adalah salah satu penyebab munculnya Flynn Effect. Peningkatan familiaritas masyarakat saat ini dengan tes dan pengetesan. Orang-orang semakin sadar dengan keinginan untuk meningkatkan hasil tesnya (bukan peningkatan kualitas inteligensinya, sayangnya). Kenapa? Karena nowadays, nasib seseorang ditentukan oleh hasil tesnya. Keputusan diterima atau tidaknya seseorang untuk bekerja di sebuah perusahaan sebagian besar didukung dengan alasan ”hasil psikotes yang buruk.” Karenanya, orang mulai mencari cara agar bisa diterima (terlepas apakah orang itu memang cocok atau memaksakan diri untuk cocok bekerja di perusahaan itu), dan hal tersebut dimanfaatkan oleh golongan oportunis untuk mengeruk keuntungan dengan terjun ke bisnis itu. Demikian hingga menjadi sebuah lingkaran setan yang tak terputus.
Anyway, saya sebenarnya lebih ingin membahas Flynn Effect. Flynn Effect pertama kali diperkenalkan oleh James Robert Flynn (1934), seorang profesor dari University of Otago, New Zealand.
Flynn Effect adalah peningkatan rata-rata skor tes IQ (Intelligence Quotient) antar generasi, dan muncul di hampir semua tempat di dunia, dengan rata-rata peningkatan yang bervariasi. Rata-rata kenaikan IQ tersebut sekitar 3 poin per dekade, dengan penekanan tes-tes yang berhubungan dengan soal-soal akademik, seperti vocabulary (perbendaharaan kata), aritmatika, atau informasi umum. Efek ini lebih terlihat muncul pada poin-poin IQ menengah.
Alasan-alasan yang dapat muncul adalah sebagai berikut :
1. Perbaikan Gizi
Orang-orang zaman sekarang lebih peduli dengan apa yang dikonsumsinya. Kesadaran untuk makan makanan bergizi, diet, perhatian lebih banyak pada keseimbangan nutrisi, ditambah pula dengan pola hidup sehat seperti ke tempat fitness secara teratur, dipercaya dapat meningkatkan konsentrasi, kegairahan belajar, dsb. Akibatnya, walaupun tidak secara langsung, kegiatan-kegiatan tersebut menjadikan tubuh lebih segar sehingga minat untuk belajar semakin baik.
2. Budaya
Kalau di Amrik sana, ini dihubungkan dengan ras. Padahal kenyataannya, black memiliki skor IQ lebih rendah daripada white, hanya karena mereka tidak diberi kesempatan untuk masuk sekolah. Selain itu, faktor budaya juga terlihat pada keinginan / effort orang tua untuk meningkatkan dan memaksimalkan kapasitas intelektual anaknya. Anak yang baru umur 2-3 tahun sudah dimasukkan ke preschool, beberapa tahun kemudian, seorang anak telah dijejali dengan les balet, les bahasa Inggris dan Mandarin, les ice-skating, les piano, dsb.
Selain itu, familiaritas terhadap teknologi (komputes, HP, dll) juga mendorong hal ini, mungkin tidak secara langsung, tetapi sedikit banyak memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan daya analitis dan kemampuan abstrak dan konseptualnya terhadap stimulasi-stimulasi tersebut. Sebagai tambahan, kesempatan yang berlatar belakang budaya ini dapat menumbuhkan inteligensi-inteligensi yang terselubung dan unik, seperti inteligensi musikal, motorik, dsb.
Dengan kata lain, skor IQ meningkat akibat adanya lingkungan yang lebih kompleks dan memberikan stimulasi lebih banyak.
3. Keturunan / gen.
Ada hubungan resiprokal dengan faktor kedua (budaya). Seseorang yang berada di lingkungan yang stimulated untuk otaknya akan memiliki tingkat inteligensi yang lebih tinggi. Akibatnya terjadi perubahan genotipe yang mempengaruhi IQ. Selanjutnya orang yang memiliki IQ tinggi cenderung untuk mencari lingkungan yang bisa memberikan stimulasi positif terhadap otaknya, yang kemudian mempengaruhi IQ-nya.
Sebenarnya fenomena skor IQ yang meningkat ini saya pikir memang bisa diprediksi. Namun memang analisis Mas Flynn ini belum banyak. Beberapa artikel juga secara kontradiktif mempertanyakan asumsi-asumsi si Mas. But kalo secara logika sih, cukup masuk di akal. Secara ilmu saat ini berkembang pesat, dan akses ke ilmu tersebut sudah ga terbendung. Akibatnya, anak zaman sekarang lebih banyak tahu informasi dari mana pun.
Yah, mungkin salah satu solusinya adalah dengan rajin meng-update norma tes, sehingga tidak ketinggalan dengan tingkat inteligensi manusia kali ya?