Saya ingin memiliki, bukan mencintai
Hal ini sebenarnya berawal dari kejadian beberapa hari yang lalu ketika saya membeli sebuah album foto. Secara saya sudah berapa tahun terakhir tidak mencetak foto-foto saya, saya biarkan saja ada di komputer dalam bentuk soft copy. Tapi lama-lama saya bosen juga, masa kalo kangen dan ingin melihat kenangan-kenangan (terutama waktu saya masih di
Semarang…hehehee), saya harus hidupin komputer dulu???
Therefore, saya mencetak hampir 200 lembar foto saya. Terakhir kali foto yang saya cetak adalah foto wisuda saya (bulan Januari 2006). So…kehidupan saya yang sempat “hilang” selama 2 tahun lebih, tidak heran kalau jumlahnya segitu banyak. Selain foto after January 2006, saya juga cetak beberapa foto sebelumnya (dan tentu saja menyertakan beberapa kenangan yang tercecer dengan mas-mas itu heheheheee)
Nah, finally saya menemukan jajaran foto kenang-kenangan, terutama foto saya saat bersama seseorang yang sangat berarti di kehidupan saya. 1,5 tahun saya pacaran sama dia. Ini termasuk rekor, karena biasanya saya pacaran cuma 3-4 bulan. Saya inget banget, waktu itu saya lagi masuk BAB III, tanda mulai penelitian untuk skripsi saya. Kebetulan perusahaan tempat saya penelitian terletak di Yogya, dan waktu itu pacar saya lagi stay di Yogya, melanjutkan kuliah magister disana. Jadilah kegiatan Semarang-Yogya-Semarang menjadi agenda rutin setiap minggu, dengan Grand ‘96 saya itu hehehee….
Yah, kalau di Yogya, begitulah kegiatannya, jalan-jalan… enak banget (ya iya lah namanya juga pacaran hehehee)…. Sebenarnya kami punya begitu banyak masalah dalam hubungan kami, sayangnya kami pun hopelass (terutama dia) dengan kondisi kami. Finally, dia meminta hubungan kami selesai, tepat di saat saya lagi sibuk-sibuknya mengejar penelitian dan bolak-balik smg-ygy.
Dia meninggalkan saya ketika saya membutuhkan (benar-benar membutuhkan) dia. Waktu itu saya benar-benar terpuruk.
Yahhh tidak usah diceritakanlah bagaimana sakit hatinya saya waktu itu. Yang jelas butuh waktu sekitar 3 tahun untuk benar-benar melepaskan dia dari kepala saya dan merelakan semuanya berakhir (walaupun dalam masa 3 tahun itu, ada beberapa cowo yg sempat dekat).
Finally, saat ini, saya menyadari satu hal yang saangggaaattt penting.
Waktu saya baru saja putus dengan dia, saya benar-benar tidak bisa menerima. Bayangkan, dia mutusin saya di saat yang sangat tidak tepat, dimana saya masih harus ke kota Yogya yang saya tahu dia ada di kota itu (sambil nyanyi-nyanyi Yogyakartanya Kla neh), dan ga ada dia di samping saya saat saya butuh dukungannya. Saya tidak terima. Saya ingin memiliki dia lagi. Untungnya saya ga nekat waktu itu, ga tiba-tiba nongol di kontrakannya dia dan saying “Surpriseeeee”(plis deh, siapa lo??).
Tiba-tiba saya bisa mencerna satu hal. Ketika saat ini saya berada di dimensi waktu 16 Oktober 2008, bukan di 25 September 2005, saya baru sadar kalau saya sebenarnya sangat sayang dengan dia. Sayaaannngg banget. Sayangnya, ketika saya putus dengan dia, ego saya maju, dia lah yang mengalahkan rasa sayang saya ke dia, sehingga yang muncul itu perasaan ingin memiliki, tidak mau orang lain memiliki dia. Namun, ketika rasa sayang itu muncul sebagai sesuatu yang pure, tanpa dicampuri keinginan akan memiliki, ego itu, ia malah dengan ikhlas melepaskan, membiarkan ia bahagia bersama orang lain.
Karena ketika kita mencintai seseorang, ketika kita menyayangi seseorang, kita akan sangat bahagia bila melihatnya bahagia. Walaupun kita harus menyadari bahwa kebahagiaannya hanya lengkap bila ada orang lain yang memberikan cinta, bukan kita.
hihihi…jd ga enak nih…
km ngomongin soal kita ya….